"Aku berjalan,
Menyusuri malam,
Setelah patah hatiku....
Aku berdoa,
Semoga saja,
Ini terbaik untuknya...."
Ya, mau gimana lagi ya. Mungkin emang udah takdirnya aja kayak gini. Di gelap malam bulan purnama ini, angin bertiup, dingin. Bintang kerlap-kerlip di langit, bulan purnama berseri, seolah mereka tau dan ingin menenangkan diri ini.
Berjalan sendiri di trotoar, beberapa puluh meter. Kulirik jam digital yang tertera di layar ponsel. Waduh, pukul 20.19, bagaimana aku bisa pulang ke rumah? Aku takut. Malam ini Ayah pasti sudah datang. Ah, kacau semua.
Tuhan, entah bagaimana malam ini. Tidak bisakah Engkau tunjukan kemurahan-Mu padaku sekali lagi? Setidaknya jangan biarkan Ayah membombardir dengan segala pertanyaan dan pernyataannya padaku. Sudah cukup penderitaanku malam ini.
Langkah demi langkah kutapaki di teras toko yang berjejer rapi. Padahal kalo si matahari masih setia menemani, emperan ini penuh berdesakan antara manusia dan makhluk lain. Tapi kenapa kok sekarang begitu mencekam. Bukan karena mobil ambulance, atau karena motor supra yang kau gunakan untuk membonceng dia. Mana pake pelukan segala lagi.
Kalo aja waktu itu aku nggak jajan pentol pedas mang Jikrun, mungkin aku nggak perlu ingat kejadian pilu waktu itu. Kejadian dimana para pencari rupiah berganti shif. Saat sinar senja berjalan menuju haribaannya. Eh, kenapa dia lewat depan mata gue...? Pake peluk-pelukan lagi. Pan itu motor gua yang bantu buat bayar kreditnya. Tapi kenapa lu tega bet dah.
Tik tok tik tok, guman detik yang terus aja berdetak di kepalaku. Argh, ingin pecah rasanya. Bagaimana kalau ayahku tahu, bahwa hati dan pikiran putrinya sedang galau berat. Galau karena sepasang manusia yang mencoba mencuranginya. Ya, mereka curang. Kalo seandainya dia memang serius, dia pasti ikut berjuang. Seenggaknya tangan berbunyi karena tepukan yang bersambut.
Tiba-tiba ingatanku beralih saat menjawab pertanyaan "apa yang anda pikirkan?" dari aplikasi berlogo f kecil, warnanya biru. "Kalo nggak bisa jawab 'iya', seenggaknya kamu bisa bilang 'maaf, aku nggak mencintai kamu!', itu juga udah cukup buat aku." Kira- begitulah isinya.
Oh Tuhan,! Kalimat itu sudah tertulis selama 4 tahun. Facebook mengingatkannya lewat fitur kenangan. Rupanya, apa yang aku tulis waktu itu masih tetap ada ya. Apakah dia abadi? Sehingga masih muncul dengan tanpa dosa memanggil memori dalam otak yang sudah lama tersimpan. Nyatanya, orang yang kuberi kode lewat status itu ternyata membalas dengan pilihan yang kedua. Dia ternyata peka juga gais.
Mungkin hampir sama seperti itu juga ya. Maksud dari Diarpus Kab. Sukabumi di Kelas Menulis Perpustakaan 4. Di angkatan yang ini, mereka mencoba memberi tema "Abadi Melalui Fiksi" untuk karya yang akan mereka hasilkan. Walaupun sebagian status yang di aplikasi biru itu mencoba menampilkan segala keluh kesah selama menjalani fase dari sedikit kehidupanku, lewat tulisan tentunya. Tapi mereka abadi. Walau harus menunngu di satu tahun berikutnya, tapi mereka tetap abadi (sampai aku menghapusnya).
Kembali ku nyalakan layar ponsel, tertera di sana angka 20.47. Waduh, bagaimana dengan ayahku?
#KMP4diarpus #KMP2021 #abadidalamfiksi #wicha_dnia
Top, deh 👍 selalu
BalasHapus