Sabtu, 11 April 2020

Jatuh Cinta Wajar, Bego JANGAN!!! (part 1)

Well, kadang suka pengen ketawa kalo inget aku pernah bodoh. Kenapa aku bilang 'pernah', ya karena hal itu pernah terjadi dan sudah terlewati. Aku menangis sepanjang malam. Aku mengurangi porsi makan saat sahur dan berbuka. Aku bertengkar, membohongi, atau main belakang dari orang tua. Prestasi akademik pun pernah menjadi taruhan saat itu. Disini aku mau coba sharing beberapa pengalaman bodohku.

Jadi, pertama aku punya pacar itu waktu kelas VII. Pacar pertamaku adalah teman sekelasku. Oke, kita panggil dia si 'Jejen'. Jejen ini orangnya pendiam, tidak terlalu muncul di kelas, dan nggak keren-keren amat. Mungkin ya karena memang pada waktu itu aku baru mulai penjajakan dalam dunia percintaan, yang seperti apapun aku coba. (Ya Allah, berat banget bahasanya). Aku lupa siapa yang pertama memulai. Eh, tapi saat aku menulis ini sepertinya sel-sel pengingat dalam otakku bekerja dan mendadak menemukan sebuah ingatan bahwa ternyata aku yang memulainya. Singkatnya aku yang nembak pacar pertamaku itu. MEMALUKAN!!!!

Selain itu, kebodohan yang kulakukan adalah memberikan contekan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan guru kepada kami. Kalo boleh sombong sih, waktu itu aku merajai hampir seluruh mata pelajaran di kelasku. Jadi, ya bisa dibilang aku mencoba melakukan pembodohan publik dengan hal tersebut.

Singkat cerita aku putus sama si Jejen. Dia yang mutusin aku dengan alasan "kamu terlalu baik buat aku." Ya Ampun, aku ingin menulis kata-kata kasar disini. Aku jelas tak terima dengan keputusannya tersebut. Aku protes, tapi dia kukuh pada pendiriannya. Aku menyerah meyakinnya dengan kata, lalu aku mengganti strategi dengan tetap memberikan contekan dan mengerjakan tugas sekolahnya. Tapi, ya dia tetap menolak. Aku pun benar-benar menyerah.

Nah, yang ingin aku sombongkan disini adalah bagaimana aku terlibat dalam urusan asmara, namun itu tak mengganggu prestasi akademikku di sekolah. Selama di kelas VII aku tetap berada di puncak, tidak ada yang menjatuhkanku.

Singkat cerita, aku naik kelas dan ternyata masih sekelas dengan si Jejen. Sebelumnya, aku berada di kelas yang terpisah gedung dengan kakak- kakak kelasku. Tapi di kelas VIII ini aku berkesempatan berada dekat dengan mereka. Aku tak memiliki daya pikat yang tinggi dibanding teman-temanku. Aku bukan termasuk golongan anak yang cantik ataupun hits. Lingkaran pertemananku pun biasa saja. Hanya, mungkin karena aku tinggal di asrama aku jadi memiliki koneksi dengan kakak kelas yang lebih baik dibandingkan temanku.

Selain dengan kakak kelas, hubunganku dengan para adik kelas pun berjalan baik. Siapa juga yang gak tau sama aku, orang waktu (kala itu masih dikenal dengan) MOS aku menjadi panitia yang dianggap paling pintar (jhahaha, izinkan aku ketawa jahat). Kebodohanku juga terjadi disini. Kalian pastinya tahu istilah 'benci jadi cinta', dan Tuhan, aku juga mengalaminya disini.  Kita panggil dia dengan nama Buluk.

Aku sama si Buluk ini dekat pas kita suka nganter teman yang pacaran. Jadi, temanku sama temannya si Buluk itu pacaran. Dan juga dia teman dekat kakak-kakak asramaku. Tapi, saat cinta itu bersemi, aku balikan lagi sama si Jejen. Gak tau dah gimana perasaannya si Buluk. Aku balikan sama jejen, nggak lama. Ternyata, Jejen hanya menjadikanku sebagai koleksinya saja yang membantu dia dalam urusan sekolah. Tau dong gimana 'peka'nya aku sama tugas sekolah dia. Jejen jadiin aku cewek ketiganya dari lima cewek lainnya. Jelas aku marah dan mengakhiri hubungan kami. Sakit? Jelas! lha orang bilang kami ini secara fisik adalah pasangan paling serasi.

Tapi si Jejen pinter, dia terus meyakinkan aku bahwa itu cuma fitnah dan candaan dari teman-teman saja. Aku kembali jatuh dalam genggamannya. Hanya saja ada rasa yang mengganjal ketika aku melihat ke kelasnya si Buluk. Tiba-tiba saja bayangannya menari di kepalaku. Fiks, aku harus temui Jejen, biar hatiku tenang. Jejen ada di kelas, sebelum aku masuk, aku mendengar celotehan dia dan teman-temannya "bisa aja ya ini orang, si Icha asalnya ketiga jadi yang kelima" diiringi gelak tawa yang ada disana.

Seperti sudah kehilangan rasa yang seketika, aku panggil dia untuk keluar kelas. Aku bilang, "Jen, maaf ya mungkib buat sekarang kita ade kaka'an dulu aja ya... , jadi kita nggak putus silaturahmi. Makasih ya..." sambil tersenyum aku lalu meninggalkannya. Nggak tau apa lagi yang terjadi disana. Yang aku tau perasaanku lega sekarang.

(to be continued)
#kmp3
#kelasmenulisdiarpusSMI

2 komentar:

  1. Wah, jadi penasaran gimana kelanjutannya...jadi ceritanya cinta monyet nih...heheh. salam...

    BalasHapus
  2. hehe... belajar nulis bu...
    tapi pas di tulis kpanjangan

    BalasHapus