"Tuhan, jika ia pergi, artinya dia memang bukan untukku. Tapi, seandainya dia memang ditakdirkan untukku, bagaimana pun jalannya, ia kan menjadi milikku... ."
Seketika mataku terbuka begitu saja. Sambil beristigfar, aku kebingungan. Bagaimana bisa kalimat setengah sadar yang sempat kuucapkan, di bawah gerimis dekat pohon alpukat itu kembali menghantuiku. Kata-kata empat tahun lalu mengalir dari dasar hatiku. Tuhan, bolehkah aku mengumpat. Mengutuki kekonyolan yang pernah aku lakukan dulu?
Ku ambil gawai dengan niat mencari tahu pukul berapa sekarang. Sial, angkanya tertulis 23.32. Angka yang cantik, namun itu pasti mempengaruhi jadwal tidurku. Ingatan itu seenaknya muncul dan mengganggu istirahatku. Tapi kenapa ia datang super mendadak? Padahal kejadiannya sudah lama berlalu. Kenapa juga dulu aku sebodoh itu mengharapkan orang yang jelas-jelas menolakku, menganggap enteng pengakuanku, dan menilih pergi saat ku coba meletakan hatiku.
Arrrghh, kenapa aku juga baru sadar kalau ini malam jum'at? Malam keramat yang penuh kenangan saat aku menghitung setiap purnama bersamanya. Malam yang mana di persimpangan jalan kau menungguku disaksikan pohon belimbing. Malam dimana kita mencemari lingkungan dengan radiasi ponsel, sekedar untuk bertanya "Hai, apa kabar. Lagi apa? Gimana pekerjaannya?" Sukabumi - Surabaya jauh lho.
Aku mencoba kembali untuk memejamkan mataku. Rebahan terlentang, tarik selimut, berdoa, pejamkan mata, dan kembali terbuka. Coba balik samping kanan, ku tarik kaki untuk mengambil posisi nyaman, kembali berdoa, pejamkan mata, dan terbuka lagi. Hey, apa maumu. Bukankah hari esok banyak pekerjaan yang sudah menunggumu. Baju yang menunggu untuk dicuci. Peralatan masak yang menunggu dibersihkan. Rumah yang ingin di beri perawatan maksimal. Ah, biarlah. Yang aku tau aku hanya ingin tidur malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar